Album yang Tumbuh Melebihi Lelucon Namanya
Ada satu ironi menarik dari perjalanan Idgitaf di 2026. Nama panggungnya berasal dari "IDGAF" (*I don't give a f***), frasa yang identik dengan sikap cuek dan nggak peduli. Tapi justru tahun ini membuktikan kebalikannya. Semua pencapaian yang dia raih lahir dari seseorang yang benar-benar peduli pada musiknya.
Album keduanya, "Berusaha di Bawah Hujan", yang dirilis pada 15 Mei 2026, berhasil masuk chart Spotify Global Albums hanya dalam hitungan hari. Dulu, posisi seperti ini hampir selalu diisi rilisan major label internasional. Sekarang, semakin sering ditempati musisi Indonesia—termasuk seorang penyanyi-penulis lagu berusia 25 tahun asal Tangerang yang memulai karier lewat video parodi di TikTok.
Yang menarik, album ini memang dirancang sebagai satu cerita utuh. Dua belas lagu yang saling terhubung membentuk satu perjalanan cinta, dan banyak pendengar menikmatinya dari awal sampai akhir. Rasanya bukan sekadar menyambut album baru, tapi menyaksikan Idgitaf benar-benar naik ke level berikutnya.
Cara melihat perjalanan Idgitaf memang sering berhenti di cerita viralnya. Orang mengingat TikTok, konten parodi, Best Performer di TikTok Awards Indonesia 2020, lalu selesai. Padahal itu baru titik awal.
Karier sebenarnya dimulai setelah semua itu. Perlahan tapi pasti, Idgitaf berhasil mengubah audiens yang awalnya mengenalnya sebagai kreator konten menjadi pendengar yang mengikuti karya-karyanya sebagai penulis lagu. Di industri pop modern, perubahan seperti ini termasuk yang paling sulit dilakukan. Dan lewat "Berusaha di Bawah Hujan", transformasi itu terasa benar-benar utuh.
Dari Parodi TikTok ke Musisi Seutuhnya
Awal perjalanan Idgitaf penting buat dipahami karena dari situlah kelihatan seberapa jauh dia berkembang.
Brigitta Sriulina Beru Meliala, yang lahir pada 15 Mei 2001 di Tangerang, memilih nama panggung "Idgitaf" dari nama kecilnya, Gita, yang dipadukan dengan akronim IDGAF. Nama itu memang mencerminkan persona awalnya yang santai dan jenaka.
Dia mulai dikenal luas pada 2020 lewat konten parodi dan cover di TikTok. Salah satu cover "Cuek" milik Rizky Febian bahkan menyebar sampai ke YouTube dan memperluas jangkauan namanya. Di tahun yang sama, dia memenangkan penghargaan Best Performer of the Year di TikTok Awards Indonesia.
Banyak kreator berhenti di titik viral. Idgitaf memilih jalan yang berbeda.
TikTok Indonesia kemudian mengajaknya merilis single original pertamanya, "Terpikat Senyummu", yang menjadi jembatan dari membawakan lagu orang lain menuju karya miliknya sendiri.
EP debut "Semoga Sembuh" menyusul, menghadirkan lagu seperti "Satu-Satu" yang ditulis bersama KithLab. Sejak saat itu, setiap rilisannya semakin memperjelas arah bermusiknya. Lagu-lagu seperti "Hal Indah Butuh Waktu Untuk Datang" dan "Takut" tidak dibuat untuk mengejar tren, tetapi untuk membangun identitasnya sebagai penulis lagu.
Vokalnya yang lembut dan jujur, yang dulu mungkin hanya terdengar sebagai ciri khas konten TikTok, perlahan berkembang menjadi karakter seorang singer-songwriter yang punya suara sendiri.
Saat Album Konsep Jadi Taruhan yang Berbuah Manis
Di era TikTok, strategi paling aman sebenarnya sederhana: terus merilis single, mengejar algoritma, lalu berharap salah satunya viral.
Idgitaf justru memilih jalan yang berlawanan.
Dia membuat "Berusaha di Bawah Hujan" sebagai album konsep berisi dua belas lagu yang saling terhubung. Album ini memang dirancang untuk didengarkan secara berurutan, sehingga setiap lagu menjadi bagian dari satu perjalanan emosi yang utuh.
Keputusan itu penuh risiko, tapi justru menjadi salah satu alasan kenapa album ini terasa berbeda.
Beberapa lagu memperlihatkan bagaimana konsep tersebut berjalan. "Sedia Aku Sebelum Hujan" menjadi pembuka yang viral secara organik karena pendengar dengan sukarela membagikannya. "Corak di Balik Debu", yang menjadi single keempat, memperlihatkan bagaimana Idgitaf semakin kuat bermain dengan metafora dan visual dalam liriknya. "Kangen Lagi" hadir dengan video musik yang memperluas cerita album.
Sementara itu, kolaborasinya bersama Hindia di "Masih Ada Cahaya" menjadi salah satu duet paling banyak dibicarakan tahun itu. Chemistry mereka terasa alami. Bukannya sekadar saling mengisi verse, keduanya benar-benar saling memperkuat emosi lagu.
Yang paling penting, semua lagu di album ini tidak terasa dibuat demi viral di TikTok. Semuanya terdengar seperti karya seorang penulis lagu yang sudah cukup percaya diri untuk berpikir dalam format album, bukan hanya single.
Dan audiens yang mengantarkan album ini ke chart global adalah orang-orang yang dulu pertama kali mengenalnya lewat video parodi. Di titik ini, transformasi Idgitaf terasa benar-benar selesai.
Angka yang Menandai Kedatangannya
Pencapaian Idgitaf sepanjang 2026 memang layak disebut apa adanya.
Masuknya "Berusaha di Bawah Hujan" ke Spotify Global Albums hanya beberapa hari setelah dirilis membawa Idgitaf ke level yang baru mulai disentuh musisi pop Indonesia seusianya. Yang membuat pencapaian ini semakin menarik adalah album tersebut justru dibangun dengan konsep yang bertolak belakang dari formula musik yang biasanya mengejar chart.
Di luar itu, performa streamingnya juga menunjukkan basis pendengar yang benar-benar kuat. Pendengar bulanan Spotify sudah menembus delapan digit, akun TikTok-nya memiliki lebih dari tiga juta pengikut, sementara Instagram mendekati 800 ribu follower.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Mereka menunjukkan bahwa Idgitaf sekarang memang punya komunitas pendengar yang terus mengikuti setiap karya barunya.
Agenda konsernya juga memperkuat kesan tersebut.
Konser Immersive Album di Jakarta pada 18 September 2026 dipromosikan sebagai pengalaman menikmati album secara utuh, bukan sekadar pertunjukan yang dipenuhi lagu-lagu viral. Jadwal di Yogyakarta diumumkan bersamaan, sementara program seperti Unlimited Listening Room dan tur multi-kota "On Air" semakin memperlihatkan arah yang ingin dibangun.
Semua itu menunjukkan bahwa Idgitaf sedang membangun pengalaman mendengarkan musik yang utuh, bukan sekadar mengejar perhatian di media sosial.
Apa Arti Terobosan Ini?
Perjalanan Idgitaf juga mencerminkan perubahan yang sedang terjadi di musik pop Indonesia.
Beberapa tahun terakhir, gelombang singer-songwriter seperti Hindia, Bernadya, dan Sal Priadi membuktikan bahwa musik yang personal dan berfokus pada penulisan lagu bisa bersaing, bahkan mengungguli pop yang lebih formulaik di layanan streaming.
Yang dibawa Idgitaf ke gelombang ini adalah jalur masuk yang berbeda.
Dia bukan datang dari skena indie ataupun ajang pencarian bakat. Dia datang dari TikTok. Namun ujung perjalanannya tetap sama: menjadi seorang penulis lagu yang mampu merilis album konsep dan membawanya sampai ke chart global.
Hal itu memperlihatkan bahwa media awal seseorang bukan lagi penentu arah akhirnya. TikTok bisa menjadi pintu masuk menuju karier musik yang serius, selama ada kemauan untuk terus berkembang.
Pada akhirnya, makna nama "IDGAF" juga berubah.
Yang awalnya terdengar seperti lelucon tentang sikap cuek, kini justru menjadi ironi yang indah. Di balik nama itu ada musisi yang menghabiskan lima tahun membangun katalog, mengambil risiko lewat album konsep, dan terus mengasah cara bercerita lewat lagu.
Kalau hari ini Idgitaf ada di chart global, itu bukan karena satu lagu viral.
Itu karena dia benar-benar peduli.
Dan mungkin, itulah seluruh cerita di balik "Berusaha di Bawah Hujan."
