Jangkauan playlist menunjukkan seberapa luas lagu artis dimasukkan ke berbagai playlist, bukan jumlah orang yang mendengarkannya.
Kalau sebuah platform belum punya data terukur, nilainya diperkirakan dari platform lain milik artis yang sama, bukan dihitung nol. Perkiraan itu ditarik mendekati rata-rata: makin sedikit data yang kami punya, makin dekat ke rata-rata. Platform yang nilainya perkiraan selalu diberi label di halaman artis.
Artis yang datanya terlalu sedikit tidak diberi skor sama sekali dan tidak masuk peringkat, karena angka yang dibangun dari data kosong tidak berarti apa-apa.
Untuk YouTube kami menghitung tontonan video musik saja. Kanal seorang artis sering berisi hal lain — vlog, acara TV, perjalanan — dan itu bukan bukti orang mendengarkan musiknya. Musik yang diunggah lewat kanal label tetap ikut dihitung. Pemisahan inimasih diterapkan bertahap ke seluruh artis; kalau angka seorang artis belum dipisahkan, hal itu ditandai di halaman artisnya.
Kalau sebuah kanal ditonton jauh lebih banyak daripada musiknya diputar, nilai YouTube-nya dibatasi. Angka sebesar itu mengukur popularitas kanal, bukan musik.
Jumlah pendengar dan tontonan bersifat global, bukan khusus Indonesia. Untuk sebagian besar artis Indonesia selisihnya kecil, tapi artis dengan banyak pendengar luar negeri akan terlihat lebih besar di sini daripada jangkauannya di Indonesia sendiri.
Sumber: Spotify, YouTube, Instagram, TikTok, riwayat data artis di iPopFiles. · Data per 29 Agustus 2026.
Bio
"Kita pernah itu di kafe bayarannya es teh," kata Agung Wahyudi alias Lewunk, mengenang awal karier Pendhoza — duo dangdut hip-hop asal Imogiri, Bantul, Yogyakarta yang ia bentuk bersama Latief Sandy Permana alias Sandios pada 15 Desember 2012. Nama Pendhoza sendiri adalah singkatan dari "penuh dengan doa dan usaha," filosofi yang mereka pegang sejak sering tampil gratis, bahkan pernah dibayar amplop berisi Rp 30 ribu untuk sekali manggung.
Genre dangdut hip-hop yang mereka usung lahir dari kompromi dua selera berbeda — Sandios menyukai hip-hop, Lewunk lebih condong ke dangdut — dengan grup Gilaz sebagai salah satu inspirasi awal. Lagu "Bojo Galak" jadi pintu masuk mereka ke telinga publik yang lebih luas.
Yang membedakan Pendhoza dari duo dangdut lain adalah pilihan sadar mereka memakai bahasa Jawa di hampir seluruh lagu, sebuah misi untuk memperkenalkan bahasa itu bukan cuma di tanah Jawa, tapi ke seluruh Indonesia.